Sunday, October 25, 2020

Keanekaragaman Hayati dan Klasifikasi Makhluk Hidup

 


Keanekaragaman hayati(biodiversitas) menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1994 adalah keanekaragaman  di antara makhluk hidup dari semua sumber termasuk di antaranya daratan, lautan, dan ekosistem akuatik lain, serta kompleks ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragamannya, mencakup keanekaragaman dalam spesies, antara spesies dan ekosistem. Keanekaragaman hayati dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan, yaitu sebagai berikut.

1. Keanekaragaman tingkat ekosistem. 
Keanekaragaman tingkat ekosistem dapat dijelaskan sebagai keanekaragaman yang terjadi sebagai akibat dari adanya interaksi antara makhluk hidup penyusun suatu daerah dengan lingkungannya. Contoh dari keanekaragaman tingkat ekosistem yaitu ekosistem padang rumput dengan hutan hujan tropis.

2. Keanekaragaman tingkat gen. 
Keanekaragaman tingkat gen dapat dijelaskan sebagai keanekaragaman yang terjadi sebagai akibat dari adanya variasi genetik dalam suatu spesies. Contoh keanekaragaman tingkat gen yaitu keanekaragaman warna mahkota bunga pada tanaman mawar. Di mana warna tanaman mawar, antara lain tanaman mawar merah, kuning, pink, dan putih.

3. Keanekaragaman tingkat jenis atau spesies. 
Keanekaragaman tingkat jenis atau spesies ini dapat dijelaskan sebagai keanekaragaman variasi bentuk dan penampakan yang dimiliki oleh spesies satu dengan spesies yang lainnya dalam suatu lingkungan. Contoh dari keanekaragaman tingkat jenis atau spesies ini yaitu penampakan yang dimiliki oleh buah cempedak atau Artocarpus cempedens dan buah nangka atau Artocarpus heterophylus yang merupakan satu famili.

Keanekaragaman hayati juga perlu dilestarikan. Pelestarian terhadap keanekaragaman hayati di negara Indonesia dapat digolongkan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

1. Pelestarian eks situ. 
Pelestarian eks situ merupakan suatu usaha pelestarian yang dilakukan dengan cara memindahkan makhluk hidup dari habitat aslinya. Contoh pelestarian eks situ yaitu kebun botani, taman safari, dan kebun binatang.

2. Pelestarian in situ. 
Pelestarian in situ merupakan suatu usaha pelestarian terhadap makhluk hidup yang dilakukan di habitat aslinya. Contoh pelestarian in situ yaitu taman nasional, hutan lindung, dan cagar alam.

Setelah memahami tentang keanekaragaman hayati. Selanjutnya akan dipaparkan tentang klasifikasi makhluk hidup. Namun, sebelum dipaparkan lebih jauh, apakah yang dimaksud dengan klasifikasi?

Klasifikasi merupakan suatu proses penggolongan terhadap makhluk hidup yang dilakukan secara sistematis menurut suatu aturan tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan dalam mempelajari tentang ciri- ciri dan sifat yang dimiliki oleh suatu makhluk hidup.

Lalu, apa tujuan dan manfaat dari mempelajari tentang klasifikasi? Tujuan dari klasifikasi terhadap makhluk hidup dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Untuk menjelaskan tentang ciri – ciri yang dimiliki oleh makhluk hidup. Dengan memahami tentang deskripsi dari ciri – ciri makhluk hidup dapat diketahui perbedaan yang dimiliki antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup yang lain.
2. Untuk mengetahui tentang hubungan kekerabatan yang ada antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup yang lain.
3. Untuk memberi nama pada makhluk hidup spesies yang baru diketahui.
4. Untuk mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan pada persamaan ciri- ciri yang dimiliki.

Dengan melihat tujuan dari sistem klasifikasi pada makhluk hidup tersebut, maka dapat diketahui beberapa manfaatnya. Adapun manfaat dari klasifikasi makhluk hidup, yaitu sebagai berikut.

1. Agar hubungan kekerabatan yang ada pada makhluk hidup dapat diketahui.

2. Memudahkan dalam mempelajari tentang makhluk hidup yang sangat beraneka ragam jenisnya.

Pengklasifikasian terhadap makhluk hidup bukannya tanpa dasar. Hal – hal yang menjadi dasar untuk sistem klasifikasi pada makhluk hidup dapat dijelaskan sebagai berikut ini.

1. Klasifikasi makhluk hidup berdasarkan perbedaan.
2. Klasifikasi makhluk hidup berdasarkan persamaan.
3. Klasifikasi makhluk hidup berdasarkan ciri biokimia.
4. Klasifikasi makhluk hidup berdasarkan ciri morfologi dan anatomi.
5. Klasifikasi makhluk hidup berdasarkan manfaat.

Bagaimana tahapan dari klasifikasi? Klasifikasi terhadap makhluk hidup memiliki tiga tahap. Tiga tahapan ini harus dilalui ketika ingin melakukan klasifikasi terhadap makhluk hidup. Tahapan – tahapan tersebut yaitu sebagai berikut:

1. Melakukan suatu proses identifikasi dan pengamatan yang dilakukan terhadap sifat yang dimiliki oleh makhluk hidup.
2. Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan pada ciri – ciri dan sifat yang diamati.
3. Memberikan nama pada makhluk hidup jenis baru. Tujuan dilakukan hal tersebut yaitu untuk mempermudah dalam pengenalan dan dapat membedakan dengan makhluk hidup yang lain.

Setelah memahami tentang tahapan klasifikasi. Bagaimana macam – macam klasifikasi? Macam – macam klasifikasi dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Klasifikasi sistem buatan. 
Klasifikasi sistem buatan diartikan sebagai suatu klasifikasi yang didasarkan pada ciri morfologi yang mudah diamati dari makhluk hidup. Contoh dari klasifikasi sistem buatan yaitu sistem klasifikasi tumbuhan yang terdiri dari pohon, herba, dan semak.

2. Klasifikasi sistem alami. 
Klasifikasi sistem alami diartikan sebagai suatu klasifikasi yang didasarkan pada sifat morfologi, fisiologi, dan anatomi yang dimiliki oleh makhluk hidup. Contoh dari klasifikasi sistem alami yaitu sapi, kerbau, dan kambing diklasifikasikan ke dalam golongan hewan yang berkaki empat atau morfologi.

3. Klasifikasi sistem filogenik. 
Klasifikasi sistem filogenik dapat diartikan sebagai suatu jenis klasifikasi yang didasarkan pada sejarah evolusi makhluk hidup dan hubungan kekerabatan antara takson yang satu dengan takson yang lain. Contoh klasifikasi sistem filogenik yaitu hubungan kekerabatan yang ada antara orang utan dan gorila.

Setelah mempelajari tentang macam- macam klasifikasi. Selanjutnya, dijelaskan tentang sistem nama makhluk hidup. Sistem pemberian nama untuk makhluk hidup yang terdiri dari dua bagian nama.

Kedua bagian nama tersebut dinamakan dengan sistem tata nama ganda atau dikenal pula dengan Binomial nomenclature. Sistem tata nama makhluk hidup ini diperkenalkan pertama kali oleh Carolus Linnaeus. Yang dilakukan pada tahun 1707 sampai 1778.

Hierarki taksonomi yang diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus ini terdiri dari takson atau tingkatan. Tingkatan ini mulai dari tingkat yang tinggi sampai tingkat yang rendah. Tingkatan ini dapat dijabarkan sebagai berikut.

Kingdom – divisio atau tumbuhan / filum atau hewan – kelas – ordo – familia – genus – spesies

  1. KINGDOM. Kingdom merupakan tingkatan takson tertinggi makhluk hidup. Kebanyakan ahli Biologi sependapat bahwa makhluk hidup di dunia ni dikelompokkan menjadi 5 kingdom (diusulkan oleh Robert Whittaker tahun 1969). Kelima kingdom tersebut antara lain : Monera, Proista, Fungi, Plantae, dan Animalia
  2. FILUM/DIVISIO (KELUARGA BESAR). Nama filum digunakan pada dunia hewan, dan nama division digunakan pada tumbuhan. Filum atau division terdiri atas organism-organisme yang memiliki satu atau dua persamaan ciri. Nama filum tidak memiliki akhiran yang khas sedangkan nama division umumnya memiliki akhiran khas, antara lain phyta dan mycota.
  3. KELAS (CLASSIS). Kelompok takson yang satu tingkat lebih rendah dari filum atau divisio
  4. ORDO (BANGSA). Setiap kelas terdiri dari beberapa ordo. Pada dunia tumbuhan, nama ordo umumnya diberi akhiran ales.
  5. FAMILI. Family merupakan tingkatan takson di bawah ordo. Nama family tumbuhan biasanya diberi akhiran aceae, sedangkan untuk hewan biasanya diberi nama idea.
  6. GENUS (MARGA). Genus adalah takson yang lebih rendah dariada family. Nama genus terdiri atas satu kata, huruf pertama ditulis dengan huruf capital, dan seluruh huruf dalam kata itu ditulis dengan huruf miring atau dibedakan dari huruf lainnya.
  7. SPECIES (JENIS). Species adalah suatu kelompok organism yang dapat melakukan perkawinan antar sesamanya untuk menghasilkan keturunan yang fertile (subur)
Bagaimana aturan dari pemberian sistem nama pada makhluk hidup. Adapun aturan pada s1. istem nama Binomial nomenclatur ini dapat dijelaskan sebagai berikut ini.

1. Terdiri dari dua kata bahasa latin atau dilatinkan.
2. Kata pertama di awali dengan huruf besar. Kata pertama merupakan nama genus. Kata kedua di awali dengan huruf kecil. Kata kedua ini merupakan penunjuk spesies atau epitheton spesificum.
3. Tulisan harus bercetak miring, apabila dicetak atau ketik komputer. Atau diberikan garis bawah, jika ditulis tangan. Contoh: jika ditulis dengan menggunakan tulis tangan, maka Elaeis oleifera atau kelapa sawit. Kemudian, jika di ketik komputer, maka Rhinoceros sondaicus atau badak bercula satu.

Perkembangan sistem klasifikasi dapat dijabarkan ke dalam lima jenis, yaitu sistem dua kingdom, sistem tiga kingdom, sistem empat kingdom, sistem lima kingdom, dan sistem enam kingdom.

Demikian pemaparan tentang Keanekaragaman Hayati dan Klasifikasi Makhluk Hidup. Semoga artikel ini dapat membantu sahabat portal ilmu untuk memahami tentang materi biologi. Selamat belajar.

Referensi:

Rahardian, R dan Ananda, A. 2012. Mini Book Master Biologi SMA Kelas X, XI, & XI. Jakarta: PT Wahyu Media.

Thursday, October 22, 2020

Busana Adat Jawa - Pengertian, Wujud dan Filosofinya

 



 Busana Adat Jawa  




Wacan kang menehi katrangan sawjining babagan utawa perkara kanhi runtut saka wiwitan tumekaning pungkasan diarari teks dheskriptl. Ancase wacan dheskriptif ku meneti gambaran saengga pamaca bisa mangreteni prekara kang tanpa kudu meruhs kahanan sanyatane. Busana Jawa, mligine Jawa Tengah, ku nduweni kaendahan uga nduweni makna tarlambu Mula, ayo padha sinau wacan dheskriptif ngenani busana adat Jawa!

A. Pangerten Wacan Dheskriptif 

1. Pangerten Wacan Dheskriptif 

Tembung "dheskripsi" asale saka basa Latin yaiku descripcere kang tegese nulis utawa njlentrehake sawjining bab/perkara. Dheskripsi uga duwe teges njentrehake utawa menehi gambaran. Dadi, wacan dheskriptif yaiku sawijning karangan kang gagasan utamane nggambarake kanthi cetha obyek, panggonan, utawa prastawa kang dadi topik marang pamaca saengga wong kang maca bisa ngrasakake langsung kang lagi dicritakake ing wacan kasebut. 
Titikan/ciri-ciri wacan dheskriptif kang becik yaiku:
a. Nggambarake samubarang upamane kahanan, papan, utawa manungsa kanthi cetha. 
b. Nggunakake pancadriya (pandeleng, pangrasa, parngrungu, pangganda, lan pangecap). 
d. Bisa ngajak pamaca kaya-kaya pamaca bisa ndeleng, ngrasa, krungu, lan ngambu/ngganda dhewe. 
e. Anggone nggambarake utawa njlentrehake sawijining obyek kang dadi topik ditulis kanthi njlimet, kaya dene wujud, ukuran, werna, lan sapiturute.

2. Jinising Wacan Dheskriptit 

Wacan dheskriptil kabage dadi rong jinis, yaiku wacan dheskripsi imajinatif lan wacan dheskripsi faktual.

a. Dheskripsi Imajinatif (impresionis) 
Dheskripsi imajinatif utawa impresionis yaiku paragrat kang nggambarake ruwang utawa panggonan dumadine prastawa Gambaran ngenani panggonan kasebut kudu bisa dimangreteni marang pikiran lan rasa pangrasa wong kang maca 
b. Dheskripsi Faktual/Ekspositoris 
Dheskripsi faktual/ekspositoris yaiku paragraf kang nggambarake sawijining perkara utawa pawongan kanthi njertrehake tetengere wong kasebut apa anane saengga pamaca bisa mbayangake kahanane. Supaya obyek bisa nuwuhake daya khayal marang awake wong kang maca, penulis kudu bisa nggambarake saka sudut pandang ngendi wae. Tansaya rinci penulis anggone njentrehake sawjining prastawa, bakal luwih cetha kanggone wong kang maca mangreteni gambaran prastawa kang dicritakake mau. Umpama obyek kang digambarake iku sawijining pawongan, babagan kang prelu dijentrehake yaiku aspek fisik uga aspek rohani saka wong kang digambarake kasebut. Aspek rohani kaya dene pangrasa, watak, bakat, lan sapiturute. 

3. Tuladha Wacan Dheskripsi 
a. Dheskripsi Imajinatif 
Tuladha:
Borabudur iku mapan ing tlatah Kabupaten Magelang. Wewangunan ing Borobudur awujud candhi Budha kang karakit saka watu kali awama ireng. Candhi ki arupa candhi susun utawa tingkat saben tingkatan ana undhak-undhakane lan saben tingkatan ana stupane uga relief sing katatah ing tembok-tembok saben tingkatan candhi. Relief iki nggambarake kabudayan masarakat jaman semana. 

b. Dheskripsi Faktual  
Tuladha: 
Respati bocah kang awake gedhe dhuwur, pinter, lan kebak subasita. Respati uga seneng tetulung marang sapa wae. Dheweke uga ora tau ninggalake salat limang wektu. Kancane Respati akeh banget amarga dheweke kalebu bocah kang grapyak marang sapa wae. 

B. Maca Wacan Dheskriptif ngenani Busana Adat Jawa


BUSANA ADAT JAWA



   Busana kejawen mungguhe wong lanang iku dumadi saka wolung werna, yaiku: blangkon utawa dhesar, beskap utawa atela, sabuk utawa setagen, keris, cindhe utawa sindur, epek, timang, jarik utawa nyamping, lan selop.
Blangkon lan keris iku siji lan sijine ana perangane dhewe-dhewe. Perangan blangkon ana pitung werna, yaiku mathak, kemodho, wiron, cungkeng, mondholan, ubet utawa kupon, lan kuncung. Dene keris kang uga diarani dhuwung utawa wangkingan utawa curiga dumadi saka pitung perangan uga. Pitung perangane keris iku jenenge ukiran, mendhak, rangka, godhong, wilah/katga/parung, pendhok, lan ganja.
Bedakke Antara Busana Adat Jawa SOLO lan YOGYA

BLANGKON


   Blangkon kota Yogya yaiku bagian mburine ana mondolan(benjolan) kanggo panggonan gelungan rambut, amarga adat zaman biyen tradisi rambut lanang didawakake. Yen didelok saka ngarep blangkon Yogya luweh mbentuk huruf “A” ing bagian bathuk.
Blangkon kota Solo yaiku luweh trepes(rata) amarga wektu masa kolonial masyarakat Solo utawa Surakarta ngikuti budaya cukur kaya kaya wong Eropa. Blangkon Solo bagian ngarep luweh omba.

SURJAN  LAN BESKAP

SURJAN

BESKAP

   Surjan yaiku klambi khas Yogya kanggo wong lanang. Sering disebut uga busana takwan, surjan luweh akeh nggunakake motif kembang-kembang kaya sing biasa dinggo Sri Sultan Hamengkubuwono.
Beskap yaiku klambi khas Solo kanggo wong lanang. Wernane luweh cenderung ireng/peteng.


KERIS
KERIS


   Warangka pada keris Yogya cenderung luweh tumpul, ornamen ukiran keris lebih sederhana.
Warangka pada keris Solo cenderung luweh lancip, ornamen ukiran keris Solo lebih bermotif daripada keris Yogya.

BATIK


   Batik Solo cenderung nduweni werna luweh ing coklat sogan, motif batik Solo lebih kecil. Cara ngewirune yen jarik Solo ing bagian pinggiran wernane putih diumpetake, dadine saka njaba orak ketok.
Batik Yogya nduweni warna dasar putih, motif batik Yogya cenderung luweh gede. Cara ngewirune yen jarik Yogya bagian pinggiran sing putih diketokake utawa diweruhake.

SANGGUL


   Sanggul yaiku rambut tamnahan sing diwenehi dasaran bentuk bulat kaya tatakan gelas rada cilik, sing digawe saka kain gaas, kadang-kadang berbentuk oval utawa bulat cilik. Rambut tambahan (palsu) tersebut iso dibentuk macem-macem sanggul sing dikenal karo kabeh ibu-ibu kanggo sanggul tempel.
Sanggul Yogya disebut sanggul gelung tekuk, kanggo masang tusuk konde sanggul Yogya ana ing 1 tengah.
Sanggul Solo disebut sanggul konde, kanggo masang tusuk konde ing 1 tengah lan 2 ing pinggir.

KEBAYA


   Kebaya Yogya khas saka kebaya iki yaiku ana pita wernane emas sing ngelilingi lengan, ngelilingi gulu, diteruskengarep dada nganti bagian ngisor awak. Jarik khas Yogya werna dasare putih. Wiru jarikke nampakake werna putih(kain sing orak di batik) pas dilempit.
Kebaya Solo  orak ana ciri khas sing khusus, kebaya Solo orak ana pita-pita hiasan sing ngelilingi awak kaya kebaya yogya. Werna dasar jarikke coklat, hitam, utawa kuning. Orak nampakake kain putih(kain sing orak batik) pas di wiru.



Sumber : Buku Gegaran Nyinau Basa Jawa 2 Kelas XI SMA/SMK/MA






Wednesday, August 12, 2020

Prinsip Keselamatan Kerja

 KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM


A. Tata tertib penggunaan laboratorium

Memakai baju khusus praktikum (baju lab) saat berada di laboratorium

Meja kerja hanya boleh untuk meletakkan alat tulis, buku, bahan dan alat praktikum

Tidak mencoba memegang alat dan bahan yang tidak diperlukan yang ada di laboratorium

Tidak makan minum dan merokok dalam laboratorium

Pengambilan zat tidak boleh berlebihan

Bersihkan alat, meja dan ruangan setelah selesai praktikum

Memisahkan sampah padat dan sampah cair. Sampah padat dibuang ditempat sampah, sampah cair dibuang di bak saluran pembuangan.

Sisa pengambilan zat sebaiknya dibuang, jangan dimasukkan kembali ke botol asal untuk menghindari kontaminasi, meskipun dalam hal ini kadang terasa boros

Sebelum meninggalkan ruangan, periksa dengan teliti kembali keadaan di dalam laboratorium

B. Keselamatan kerja di laboratorium

Sebaiknya minum segelas susu sebelum praktikum untuk menetralkan tubuh dari pengaruh kontaminasi zat- zat kimia

Kenakan penutup hidung dan mulut, kacamata dan sarung tangan saat mengambil zat- zat kimia yang mudah menguap dan berbahaya

Wanita dan pria yang memiliki rambut panjang harus diikat, rambut panjang yang tidak terikat dapat menyebabkan kecelakaan. karena dapat tersangkut pada alat yang berputar.

Hati- hati saat membawa dan menggunakan alat- alat praktikum yang terbuat dari kaca

Gunakan alat bantu seperti pipa kaca, pipet tetes, sndok plastik atau pinset untuk mengambil zat- zat atau bahan

Bila ada bagian tubuh yang terkena zat kimia, sgera basuh dengan air

Gunakan obat- obatan P3K bila ada yang terluka

Sgera muntahkan jika ada zat kimia yang masuk ke dalam mulut

Jangan mencium zat kimia secara langsung, cara membaui zat adalah mengibas- ngibaskan tangan kemulut tabung

Jika hendak memanaskan tabung reaksi arahkan mulut tabung reaksi tersebut menjauh dari wajaw. Panaskan tabung reaksi tersebut dengan cara digerak- gerakkan sehingga pemanasan tidak pada satu sisi.

Bila terjadi kebakaran segera padam kan dengan alat pemadam kebakaran atau tutup dengan lab tebal yang sudah dibasahi air

Cucilah tangan dngan sabun setelah praktikum

Jika hendak mencampur larutan dengan zat tambahan yang dapat menimbulkan reaksi, lakukanlah dengan pipet setetes demi setetes melalui bagian pinggir tabung reaksi.

C. Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) di laboratorium


1. Luka

Luka lecet. Bersihkan luka dengan air dingin atau hangat, mengalir dan bukan dicelupkan. Antiseptik sebaiknya ditambahkan untuk membantu membersihkan luka. Diberi betadin, dan ditutup dengan kasa steril kemudian diplester atau dibalut. 

Luka iris. Luka akibat benda tajam seperti pisau atau pecahan kaca. Bersihkan dengan air matang bersih, diberi obat merah atau antiseptik, dirapatkan dan dibalut, atau ditutup dengan plester atau kain kasa yang bersih. 

Luka tusuk. Luka yang disebabkan oleh benda berujung runcing seperti paku, jarum atau tertikam. Luka dibersihkan, ditutup, dan korban dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit untuk mendapat suntikan anti tetanus. 

Luka memar . Luka tertutup dimana kerusakan jaringan dibawah kulit disertai perdarahan yang dari luar tampak kebiruan. Penanganannya dengan kompres air hangat –dingin bergantian, dan meninggikan bagian yang luka. 

Luka bakar

* Luka bakar akibat zat kimia asam 

Hapus zat asam dengan kapas atau kain halus, cuci dengan air mengalir sbanyak- sebanyaknya, selanjutnya cuci dengan larutan Na2CO3 1%. Cuci lagi luka dengan air, keringkan, olesi dengan salep lavertan (salep minyak ikan) dan balut dengan kain perban. 


* Luka bakar akibat zat kimia basa 

Cuci dengan air sebanyak- banyaknya. Bilas dengan asam asetat 1%. Cuci kembali dengan air. Keringkan, olesi dengan salep boor. Balut dengan kain perban.

* Luka bakar karena panas 

Bila kulit hanya memerah, olesi dengan salep lavertan. Bila sampai terassa nyeri kompres dengan air secepatnya dan bawa ke dokter. Bila luka terlalu besar jangan diberi obat apapun, tutup luka dengan kain perban dan bawa segera ke dokter.


2. Keracunan melalui mulut

Bila zat hanya sampai dimulut segera kumur- kumur sebanyak- banyaknya

Bila zat tertelan segera muntahkan. Jika tidak bisa muntah pancing dengan minum segelas air yang dicampurkan 2 sendok teh garam dapur atau pancing dengan jari yang dimasukkan ke pangkal tenggorokan hingga dapat muntah

Jika korban pingsan, hindari pemberian sesuatu melalui mulut, segera bawa ke dokter

3. Keracunan zat melalui hidung 

Bawa si penderita ke tempat yang udaranya segar. Bila korban tidak bernafas, berikan nafas buatan.

4. Mata terkena percikan zat kimia 

Segera basuh dengan air sebanyak- banyaknya.


D. Simbol- simbol keselamatan kerja dan maknanya






Baca Juga : Ruang Lingkup Biologi
Baca Juga : Metode Ilmiah

Metode Ilmiah

 

Metode ilmiah adalah suatu metode atau cara untuk memecahkan suatu masalah dengan langkah-langkah tertentu, sistematis, logis dan empiris. Hal ini mengandung arti bahwa langkah-langkah yang dilakukan harus sesuai urutannya, tidak boleh dibolak balik.


(1) Ilmuwan melakukan pengamatan dan membuat hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam;

(2) prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis diuji dengan melakukan percobaan atau eksperiTiap langkah yang dilakukan saling berkaitan atau berhubungan, bisa diterima secara logika dan dilakukan berulang-ulang. Metode ilmiah digunakan oleh para ilmuwan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Metode ilmiah mempunyai kriteria sebagai berikut:

men;

(3) hipotesis yang telah lolos uji berkali-kali dapat menjadi teori ilmiah.


Metode ilmiah yang harus dilakukan oleh para ilmuwan untuk menemukan teori adalah pengulangan dari langkah-langkah tersebut di bawah ini:


1. Mengadakan pengamatan, dari pengamatan kemudian dibuat atau dirumuskan masalah (melakukan karakterisasi setelah mealkukan pengamatan dan pengukuran)


2. Membuat hipotesis (menyusun dugaan yang bersifat sementara atas hasil pengamatan dan pengukuran) dari masalah tersebut


3. Prediksi (deduksi logis dari hipotesis)


4. Melakukan percobaan atau eksperimen (pengujian atas semua hal yang terdapat pada point 1-3)


5. Menarik kesimpulan


Langkah-Langkah Metode Ilmiah



Merumuskan masalah

Bagaimana membuat rumusan masalah dari hasil pengamatan ?

Misalnya anda diminta mengamati tumbuhnya bayam di sekitar kandang dengan tumbuhnya bayam di bawah pohon mangga. Dalam pengamatan ini Anda diminta mengamati kondisi fisik tanah dan memperkirakan kandungan zat hara tanah serta suhu di tempat tumbuhnya bayam. Kemudian Anda diminta menulis satu rumusan penelitian.

Untuk membuat rumusan masalah, para ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subyek yang diteliti. Dalam proses ini dapat melibatkan proses pengamatan yang seringkali memerlukan pengukuran dan atau analisa yang cermat. Proses pengukuran dan analisa sering memerlukan alat ilmiah khusus seperti termometer, AAS, mikroskop, spektrometer dan lain-lainnya.


Hasil pengukuran bisa ditabulasikan dalam tabel, digambarkan dalam bentuk grafik atau dipetakan dan diproses dengan perhitungan statistik seperti korelasi dan regresi atau secara deskriptif. Dengan demikian melalui pengamatan dan pengukuran maupun anlisa dapat merumuskan masalah penelitian.


Prediksi Dari Hipotesis

Untuk membuat hipotesis anda diminta mencermati pernyataan yang menyatakan bahwa kesuburan tanah dapat diidentifikasi dari kondisi fisik dan kandungan zat haranya. Tanah yang gembur dan kandungan zat hara tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Berdasarkan pernyataan tersebut di atas dan rumusan masalah pada point 1, buatlah hipotesis penelitiannya.


Hipotesis merupakan pernyataan sementara yang perlu dibuktikan kebenarannya. Para ahli menyatakan bahwa hipotesis adalah dugaan terhadap hubungan antara dua variabel atau lebih. Sehingga hipotesis sering dinyatakan sebagai jawaban sementara atau dugaan sementara yang harus diuji kebenarannya.


Hipotesis penelitian adalah hipotesis kerja, yaitu hipotesis yang dirumuskan untuk menjawab permasalahan berdasarkan teori- teori yang relevan dengan rumusan masalah penelitian dan belum berdasarkan fakta atau dukungan data yang nyata dari hasil kerja di lapangan. Dengan demikian melalui prediksi berdasarkan teori-teori yang relevan dengan permasalahan dapat dirumuskan hipotesis.

Eksperimen

Bagaimana melakukan eksperimen ?

Berdasarkan rumusan masalah dan hipotesis dibuatlah rancangan penelitian atau eksperimen. Untuk itu perlu diidentifikasi terlebih dahulu variabel bebas, variabel terikat dan variabel kontrol. Berdasarkan ketiga variabel tersebut dibuatlah rancangan eksperimen dan selanjutnya dilakukan percobaan atau eksperimennya.


Jika hasil eksperimen tidak sesuai atau bertentangan dengan hipotesis maka hipotesis yang diuji tidak benar atau tidak lengkap sehingga perlu dianalisis mengapa hasilnya demikian. Dengan demikian akan bisa ditentukan apakah perlu ada perbaikan atau bahkan ditinggalkan. Jika hasil eksperimen sesuai dengan hipotesis, maka hipotesis tersebut benar namun masih perlu diuji lebih lanjut. Hasil eksperimen tidak bisa membenarkan suatu hipotesis melainkan hanya bisa meningkatkan probabilitas kebenaran hipotesis tersebut.


Tetapi hasil eksperimen secara mutlak dapat menyalahkan suatu hipotesis bila hasil eksperimen bertentangan dengan hipotesis. Eksperimen dapat dilakukan di dalam laboratorium maupun di luar laboratorium. Yang perlu diperhatikan adalah pencatatan yang detail dari suatu eksperimen, hal ini sangat membantu dalam pelaporan hasil eksperimen dan memberikan bukti efektivitas dan keutuhan prosedur yang dilakukan.


Merumuskan Kesimpulan

Bila langkah merumuskan masalah, prediksi dari hipotesis, rancangan eksperimen dan eksperimen dilakukan secara sistematis maka akan dapat dibuat kesimpulan dari hipotesis yang diuji yaitu pupuk dapat mempengaruhi (meningkatkan ) pertumbuhan tanaman.

Kesimpulan ini diperoleh dengan melakukan analisis data dan pembahasan berdasarkan landasan teoritis dan empiris yang dikembangkan berdasarkan data hasil eksperimen. Perlu diperhatikan bahwa seseorang yang melakukan proses metode ilmiah perlu didasari sikap ilmiah dan sikap ilmiah ini semestinya dipunyai oleh setiap peneliti dan para ilmuwan.


Sikap ilmiah yang dimaksud adalah jujur (menerima kenyataan hasil penelitian apa adanya tanpa harus melakukan modifikasi dan tidak mengada-ada), obyektif ( sesuai dengan fakta yang ada), teliti ( tidak ceroboh dan tidak melakukan kesalahan), terbuka (mau menerima pendapat yang benar dariorang lain) dan rasa ingin tahu yang tinggi.


Keterampilan Proses Sains

  • Menerapkan keterampilan proses Sains dalam mempelajari Biologi

Keterampilan proses merupakan cara memandang siswa sebagai manusia seutuhnya, yang mana siswa juga memiliki potensi, kreasi, keingintahuan, dan perasaan. Cara memandang ini diekspresikan dalam kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan pengetahuan, sikap dan nilai serta keterampilan-keterampilan ilmiah. Keterampilan ilmiah atau keterampilan sains merupakan seperangkat keterampilan yang digunakan para ilmuwan dalam melakukan penelitian ilmiah.


Keterampilan proses sains ini perlu dilatihkan kepada siswa dengan alasan:

(1) dalam praktiknya, sains tidak bisa dipisahkan dari metode ilmiah atau metode penyelidikan dan mengetahui sains tidak hanya sekedar mengetahui materi tentang sains tetapi juga bagaimana cara untuk mendapatkan materi sains tersebut;


(2) keterampilan proses sains merupakan merupakan keterampilan belajar sepanjang hayat yang dapat digunakan tidak hanya untuk mempelajari ilmu tetapi juga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari bahkan untuk bertahan hidup.


  Keterampilan proses melibatkan keterampilan kognitif, manual dan sosial. Keterampilan manual jelas terlibat dalam keterampilan proses karena keterlibatannya dalam penggunaan alat dan bahan, pengukuran dan perakitan alat. Keterampilan sosial jelas terlibat dalam hal mendiskusikan hasil pengamatan.


Dalam pembelajaran Biologi keterampilan proses perlu dikembangkan melalui pengalaman langsung sebagai pengalaman belajar dan disadari ketika kegiatannya sedang berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui pengalaman langsung seseorang dapat lebih menghayati proses atau kegiatan yang dilakukan tetapi apabila hanya sekedar melaksanakan tanpa menyadari yang sedang dikerjakan maka hasilnya kurang bermakna dan memerlukan waktu yang lama untuk menguasainya.


Dalam pembelajaran Biologi keseimbangan antara perolehan produk (konsep/pengetahuan) dan kemampuan yang berkembang selama proses belajar melalui keterampilan proses merupakan hal yang harus dipertimbangkan guru Biologi.


Berdasarkan berbagai pendapat tentang komponen keterampilan proses, komponen keterampilan yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran Biologi bersifat relatif. Oleh karena itu, di bawah ini disajikan jenis keterampilan proses sains beserta indikatornya yang dapat diberikan dalam bahan ajar ini tidak mutlak. Secara prinsip komponen keterampilan proses yang dapat diberikan kepada siswa adalah sebagai barikut.


  •  Mengamati /observasi dan Menafsirkan pengamatan

1. Mengamati merupakan keterampilan proses yang menjadi dasar dari semua keterampilan. Dalam hal ini, mengamati adalah kemampuan menggunakan seluruh indera yang dimiliki oleh semua siswa dan mengumpulkan /menggunakan fakta yang relevan
2. Menafsirkan pengamatan merupakan keterampilan mencatat hasil pengamatan, memisah-misahkan, mengklasifikasikan, menghubung-hubungkan sehingga diperoleh suatu pola

  • Memprediksi

Penggunaan pola yang telah ditemukan pada saat melakukan pengamatan, dapat digunakan untuk mengemukakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada fenomena yang serupa. Jadi, proses melakukan prediksi ini merupakan sutau proses penalaran yang logis berdasarkan hasil pengamatan.

  • Menggunakan peralatan dan Mengukur

Keterampilan ini merupakan kemampuan dalam memilih alat atau bahan yang sesuai serta kemampuan melakukan pengukuran suatu besaran dengan akurat. Jika hal ini dilakukan berulang-ulang, maka siswa akan mampu memperkirakan kesalahan yang dilakukan kemudian mengoreksinya.

  • Mengajukan pertanyaan

Terbiasa mengajukan pertanyaan, secara tidak langsung dapat mengungkapkan seberapa jauh kemampuan kognisinya digunakan. Jenis dan substansi pertanyaan menunjukkan tingkat berpikirnya. Keterampilan ini akan berkembang jika guru sering memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi.

  • Merumuskan hipotesis

Keterampilan merumuskan hipotesis menekankan pada kemampuan menyatakan dan menentukan pola yang diperoleh sekaligus menyatakan kemungkinan akibat-akibat dari pernyataan yang dibuatnya.

  • Merencanakan penyelidikan/percobaan

Keterampilan ini merupakan kemampuan siswa dalam merencanakan suatu percobaan untuk membuktikan atau menemukan suatu konsep. Kemampuan menentukan alat dan bahan yang digunakan, menentukan variabel-variabel, menentukan desain percobaan, menentukan langkah kerja serta bagaimana mengolah data merupakan kemampuan yang dapat dikembangkan melalui keterampilan ini.

  • Menginterpretasikan

Keterampilan ini merupakan kemampuan siswa untuk menyimpulkan kecenderungan informasi yang diperoleh, membuat kesimpulan tentatif atupun membuat generalisasi.

  • Berkomunikasi

Keterampilan ini merupakan kemampuan untuk menguraikan dengan jelas dan cermat apa yang telah dilakukan. Menyusunnya dalam berbagai sarana komunikasi (di depan kelas, diskusi, seminar, dsb.), menggambarkan hasilnya melalui gambar, skema, grafik adalah kemampuan yang dapat dikembangkan pada diri siswa.

  • Mengelompokkan / Interpretasi

Keterampilan ini merupakan kemampuan untuk mencatat setiap pengamatan yang terpisah, mencari perbedaan dan persamaan, mencari dasar pengelompokan atau penggolongan dan menghubungkan hsil-hasil pengamatan.

  • Menerapkan konsep

Keterampilan ini merupakan kemampuan untuk menggunakan konsep yang telah dipelajari pada situasi baru dan menggunakan konsep pada pengalaman baru untuk menjelaskan apa yang terjadi.


Contoh Aplikasi Pendekatan Keterampilan Proses Untuk Meminta Siswa Melaksanakan Kegiatan :

1. Coba amati percobaanmu, catat perubahan-perubahanyang terjadi pada tanaman tersebut selama 1 minggu! (Keterampilan mengamati)
2.  Pada saat melakukan kegiatan nomor (1), menurutmu apa yang akan terjadi pada pertumbuhan tanaman dalam pot/polybag? (Keterampilan menyusun hipotesis)
3. Jika tanaman tersebut dibiarkan pada posisinya selama 4 minggu, maka apa yang akan terjadi pada tanaman tersebut? (Keterampilan memprediksi)
   Bagaimana pertumbuhan tanaman tersebut, jika setelah 2 minggu pot/polybag diubah posisinya menjadi berdiri? (Keterampilan memprediksi)
4.  Kesimpulan apa yang dapat kamu peroleh melalui kegiatan seperti yang kamu lakukan (Keterampilan membuat kesimpulan)
5. Buatlah laporan singkat tentang hasil pengamatanmu (Keterampilan komunikasi)

Jadi melalui satu kegiatan, guru dapat mengembangkan beberapa keterampilan proses sekaligus. Sebagai konsekuensinya, dalam proses pembelajaran Biologi yang dikemas dengan pendekatan ini paling tidak membawa dampak pada:
  • Pelaksanaan pembelajaran membutuhkan waktu yang cukup
  • Kekhawatiran tidak dapat menuntaskan seluruh materi, jika selalu menggunakan pendekatan ini pada saat
  • Guru harus memiliki waktu luang yang cukup untuk mempersiapkan

Demikianlah pembahasan mengenai Metode ilmiah Biologi -Pengertian, Langkah, Karakteristik, Contoh semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂


Baca Juga : Ruang Lingkup Biologi

Baca Juga : Prinsip Keselamatan Kerja

Sunday, August 9, 2020

Geguritan


Geguritan merupakan salah satu sastra Jawa dengan teman-temannya yaitu Parikan, Panyandra, Purwakanti, dan Panyendhu. 


ANALISA MATERI


Tingkat Kesulitan : Easy

PETA KONSEP

1. Pengertian Geguritan

2. Ciri-ciri Geguritan

3. Unsur-unsur Geguritan

4. Contoh Geguritan

5. Menulis Geguritan

6. Membaca Geguritan



Pangertene Geguritan

Geguritan yaiku puisi jawa anyar kang ora kaiket dening paugeran tertemtu.


Titikane Geguritan

1. Ora kawengku ing pathokan

2. Nggunakake tembung kang pinilih

3. Ora nggunakake basa padinan lan arang nggunakake tembung pangiket

4. Migunakake purwakanthi sastra, swara lan basa

5. Isine mentes


Unsur-unsur geguritan

Unsur Intrinsik

1. Tema/ Liding Cerita : gagasan pokok kang disuguhake dening panganggit.


2. Pamiling tembung/diksi :  pilihan tembung kang trep/mathuk kango geguritan.


3. Lelewaning basa/gaya bahasa : mbudidayane panganggit kanthi milih tembung-tembung kang dironce kanti endah saenggo ngasilake ukara kang ngandut lelewaning basa.


Tuladha lelawaning basa :

a. Personifikasi : ngumpamakake barang kaya tumindake manungsa

tuladha : Serngenge iku ngguyu mesem marang sliramu.


b. Metafora : mbandingake barang marang barang liyane kang sipate pada.

tuladha : Sulastri kui kembang desa ing Telagareja.


d. Repetisi : penganggit kepingin nuduhke maksude ing geguritan kanthi mbolan-mbaleni tembung.

tuladha : Aku wis ngomong yen aku ora ngapusi, aku ora mblenjani.


4. Citraan/imajinasi : gambaran angen-angen/imajinasi penganggit kang diwujudake kanti indra.


5. Latar : nggambarake papan, swasana, wektu kangge narik kawigaten.


6. Pesen/amanat : pesen, nasihat, utawa piwulang becik kang diwedharake penganggit lumantar geguritan.


Unsur Ekstrinsik

1. Biografi : latar belakang/ riwayat uripe penulis

2. Nilai ing sajerone crita : kayata ekonomi, politik, sosial, adat-istiadat, budaya, lan sapanunggalane.

3. Kemasyarakatan : kahanan sosial nalika geguritan ditulis.


Tuladha Geguritan

TITIK SAKA DESA

Bambang P


Dak rungu titir saka desa

Dudu titire eyang, paman, uga biyung

Kang ngudarasa jalaran

Jago-jago padha kluruk wayah sore

Dak rungu-rungu titir saka desa

Titir lawas saka sangpujangga

Menawa kali ilang kedhunge

Wong wadon ilang wirange

Pasar ilang kumandhang

Uga ha, na, ca, ra, ka kasustran

Nate ngrenggani tanah Jawa

Bakal ilang sirna tanpa sabawa 

Mitra, apa kita tetep ngelus jaja?!


Jlentrehane :

Liding crita : Kabudayaan

Pamiling tembung :Titir, ngudarasa, kedunge, wirangi, sabawa, jaja, sangpujangga

Lelawaning basa : Jago-jago padha kluruk wayah sore , Menawa kali ilang kedhunge, Pasar ilang kumandhang

Citran : Pangrasa lan pangrungu

Latar : desa, trenyuh, sore

Pesen : Aja nglalikake budaya Jawa.


JAMAN

Dening : Muhammad Yamin M.S


Jaman geger aku ngungsi ketewer-tewer

Ndhelik sor ngemper

Ngerti-ngerti ketiban genter

Alah bapak balung sate

Uripku ijen-ijenan

Nong, ning, nong, neng, nong, ning, neng, nung


Rekasane urip jaman geger

Ati ora jenjem mangan ora tentrem

Turu ora bisa merem

Pating jledhor bedhil mriyem

Oh, Paiyem…. Paiyem, bojoku sing mati kaliren

Bubar nglairake anak wadon nalika perang rame

Mula bocah wadon mau dakjenengake “Rame”


Oh, Rame-Rame kowe saiki wis genti duwe anak lima semega-semega

Urip jaman merdika, enake apa-apa ana

Kliwat ngedan dadi brandhalan

Omben-omben, mabuk-mabukan

Tan ngerti bedhahing kamardikan


Aku tumbaling putuku

Lelabuhan jebul aji watu

Saiki jaman maju

Apa-apa kolu

Jaman mau wong urip sarwa kesusu

Mlebu-metu neng hotel nyandhing wong ayu

Lah Bapak ra ngerti saru

Sing neng ngomah padha padu


Damen-damen pari-pari

Biyen-biyen saiki-saiki

O, slamet, slamet

Jamane bundhet ruwet

Ora eling labuh labet

“E , bocah-bocah …. Jaman rong ewu neng ngarepmu

Mangsa borong, neng pundhakmu jaman dadi abang biru

Aku ora ngaru siku, wis simbah turu!”


(Pangilon, Antologi Geguritan FKY)


Jlentrehane:


Isi Geguritan

1. Obah –owahing jaman, kang lir gumanti, saka jaman geger tumeka jaman 2000-an mangaribawani watak-wantu, lagu lan lageyan kang urip ing jamane.

2. Protese veteran perang marang generasi saiki, amarga anggone ngisi kamardikan cengkah karo gegayuhane para pejuang.


Pesen Moral

a. Manungsa mbetahaken gesang ingkang tentrem lan aman

b. Ampun damel rekaosipun tiyang sanes

c. Ampun serakah

d. Tanggung jawab marang tugas



Nulis Geguritan

1. Nemtoake tema

2. Milih tembung kang becik

3. Cacahing gatra (baris) ringkes lan mantes

4. Migunakake tembung kang andhahan

5. Migunakake basa kang endah

6. Pamilihing aksara swara kang trep saengga wirama endah


Sing kudu digatekake nalika maca Geguritan:


 

1.Wicara/Kualitas Vokal yaiku ala becike aksara suwara/dhang-dhinge basa, pocapan/lafal (a, å, i, o, è, é, ê, ta, tha, da, dha) Pamacane geguritan, pocapan kdu cetha, ora kena groyok, pelo utawa rangu-rangu, kejaba kuwi pamacane geguritan kudu bisa ngucapake aksara kanthi bener, umpamine mbedakaken aksara (a, å, i, o, è, é, ê, ta, tha, da, dha)


2. Wirama/Tata cara/Etika maca Geguritan yaiku lagu/iramane, maca geguritan, bisa minangka pandudut (daya tarik) kanggone sing ngrungokake. Banter alone wiramane becik kalarasake karo isine geguritan. Lamun maca geguritan kanthi dhasar karangan (tema) perjuangan pamacane gurit sing sora lan semangat, beda karo yen maca geguritan isi kesusahan, kasmaran pamacane ya kudu luwih alon lan sareh.


3. Wirasa/Greged/ penjiwaan /Pemahaman tegese isi Geguritan, cocok/penere anggone negesi Geguritan. Wirasane nalika maca kudu kaetrepken karo isining geguritan umpamane : nesu, gumbira, sedhih, sereng, wibawa, getun, lan sapanunggalane.


4. Wiraga/Ekspresi/mimik yaiku cocok/jumbuhing solah bawa obahing badan, polatan, rasa. Obahing badan lan polatan (mimik) kudu luwes (ora kaku), prasaja lan ora katon lamun digawe-gawe.



Cukup sekian pembelajaran bab Geguritan materi Bahasa Jawa Kelas 12 


Konsep Biologi untuk pembelajaran TKA Biologi Kelas XII

  🌳 Keanekaragaman Hayati Keanekaragaman hayati (Biodiversitas) adalah totalitas variasi kehidupan di bumi. Untuk analisis TKA, Anda wajib...