Sunday, April 4, 2021

Kingdom ANIMALIA (HEWAN)

 KINGDOM ANIMALIA



Tujuan Pembelajaran:

- Setelah mempelajari bab ini, siswa diharapkan dapat:
- Menjelaskan dasar-dasar pengelompokan Dunia Hewan.
- Mengamati dan menyimpulkan informasi dari leteratur tentang cara perkembangbiakan anggota Dunia Hewan.
- Mengenali anggota masing-masing filum dan kelas pada Dunia Hewan berdasarkan ciri-cirinya.
- Mengidentifikasi peran anggota Dunia Hewan bagi kehidupan.
- Mengusulkan alternatif pemanfaatan Dunia Hewan bagi perkembangan sains, teknologi, dan lingkungan masyarakat.  
- Mengidentifikasi, membedakan, dan mengkomunikasikan ciri-ciri morfologi filum dalam Dunia Hewan.

Kingdom Animalia atau biasa disebut hewan organisme eukariotik (organisme dengan sel kompleks) yang multiseluler. Berbeda dengan tumbuhan, hewan tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis untuk membuat makanannya sendiri. Oleh karena itu, hewan harus mencari makanannya sendiri untuk mendapatkan energi kemudian makanan tersebut dicerna di dalam tubuhnya. Proses ini membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida sebagai zat sisa.


Pengertian Kingdom Animalia

Kingdom animalia adalah salah satu kingdom yang memiliki anggota yang paling banyak dan bervariasi. Secara garis besar kingdom animalia dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu golongan vertebrata (hewan bertulang belakang) dan golongan invertebrata (hewan tak bertulang belakang. Dan berikut akan dijelaskan mengenai ciri-ciri, struktur lapisan tubuh, dan klasifikasi dari kingdom animalia. Ciri khas pada hewan yaitu sel hewan tidak memiliki dinding sel. Hewan banyak mengandung sel otot untuk pergerakannya dan sel saraf yang berfungsi untuk merespon setiap rangsang.

Ciri Ciri Kingdom Animalia
  1. Makhluk Hidup Multiseluler (Memiliki banyak sel)
  2. Bersifat Heterotrof (tidak dapat membuat makanan sendiri)
  3. Memerlukan Oksigen
  4. Memiliki sel otot untuk penggerak dan sel saraf untuk rangsangan
  5. Reproduksi Umumnya Seksual, namun beberapa filum juga menggunakan reproduksi aseksual
  6. Bentuk Dewasanya selalu diploid (2n)

Klasifikasi Kingdom Animalia

Kingdom Animalia terdiri dari:
  1. Kelompok invertebrata yaitu kelompok hewan yang tidak mempunyai tulang belakang.
  2. kelompok vertebrata yang memiliki tulang belakang.

1. Invertebrata

Kelompok Invertebrata terbagi atas beberapa filum yaitu Porifera, Coelenterata, Plathyhelminthes, Nemathelminthes, Annelida, Mollusca, Arthropoda dan Echinodermata.

  • 1. Phylum Porifera (Hewan berpori/spons)

 Ciri2 Porifera:

  • Hewan multiseluler dengan tubuh berpori, jaringan yang belum terbentuk, memiliki rangka serta saluran air.
  • Bersifat heterotrof dengan memperoleh makanan di air yang masuk ke dalam tubuh melalui pori.
  • Hidup di laut, melekat pada batu atau benda lainnya.
  • Reproduksi secara aseksual dengan pembentukan tunas, gemmule (tunas internal) dan regenerasi. Reproduksi secara seksual dengan pembentukan gamet.
  • Porifera digolongkan menjadi tiga kelas berdasarkan penyusun rangka, yaitu Hexactinellida, Demospongiae dan Calcaera.
  • Peranan Porifera sebagai spons mandi atau alat gosok, dan berpotensi sebagai obat kanker.
2. Phylum Coelenterata (Hewan berongga)

  • Hewan multiseluler diploblastik yang tubuhnya telah terbentuk jaringan, berbentuk polip atau medusa dengan tentakel berpenyengat, memiliki rongga pencernaan, system saraf sederhana dan tidak memiliki system ekskresi.
  • Bersifat heterotrof dan menggunakan tentakel untuk menangkap mangsa.
  • Habitat terdapat di laut
  • Reproduksi secara aseksual dengan pembentukan tunas oleh polip dan reproduksi secara seksual dengan pembentukan gamet oleh medusa atau polip.
  • Berdasarkan bentuk dominan dalam siklus hidup dibedakan menjadi tiga kelas, yaitu Hydrozoa, Scyphozoa dan Anthozoa.

  • 3. Phylum Platyhelminthes ( Cacing pipih)


  • Hewan triploblastik aselomata dengan tubuh simetri bilateral berbentuk pipih, memiliki system saraf, system pencernaan dengan satu lubang, tidak memiliki system sirkulasi, respirasi dan ekskresi.

  • Hidup bebas di laut, air tawar, tempat lembab atau parasit pada hewan serta manusia.
  • Bersifat hemafrodit, reproduksi seksual secara sendiri atau silang, reproduksi aseksual dengan fragmentasi yang diikuti regenerasi.
  • Klasifikasi dibedakan menjadi tiga kelas, yaitu Turbellaria, Trematoda dan Cestoda.



  • 4. Phylum Nemathelminthes ( Cacing Benang)

  • Hewan triploblastik pseudoselomata, tubuh simetri bilateral berbentuk bulat panjang dilapisi kutikula dengan system pencernaan lengkap, system sirkulasi oleh cairan pseudoselom, tidak memiliki system respirasi dan ekskresi.
  • Hidup bebas atau parasit
  • Hidup di tanah basah, dasar perairan tawar atau laut bebas, bersifat parasitik pada manusia, hewan dan tumbuhan.
  • Reproduksi secara seksual
  • Contoh Nemathelminthes yang parasitik yaitu cacing gelang, cacing tambang, cacing kremi, cacing filarial dan cacing Trichinella.



  • 5. Annelida (Cacing Gelang)

  • Hewan triploblastik selomata, tubuh simetri bilateral bersegmen, memiliki otot, system pencernaan lengkap, system sirkulasi, system saraf tangga tali yaitu sistem saraf yang terdiri dari ganglia otak di depan tubuh dekat dengan faring dan tali saraf yang menembus segmen tubuh serta memiliki system ekskresi. Tidak memiliki system respirasi, bersifat hemafrodit atau gonokoris (alat kelamin jantan dan betina terpisah pada individu yang berbeda).
  • Hidup bebas di dasar laut, perairan tawar, tanah dan tempat yang lembab atau parasit pada vertebrata.
  • Reproduksi secara seksual atau aseksual.
  • Dibedakan atas 3 kelas yaitu, Polychaeta, Oligochaeta dan Hirudinea.




  • 6. Mollusca ( Hewan Lunak )
  • Hewan triploblastik selomata dengan simetri bilateral, bertubuh lunak, hidup bebas di laut, air tawar maupun darat.
  • Tubuh terdiri dari kaki, massa visceral dan mantel. Bercangkang, system pencernaan yang lengkap, system sirkulasi terbuka dan tertutup. System saraf terdiri atas ganglion dan serabut saraf. Respirasi dengan insang atau rongga mantel. Ekskresi dengan nefridia, bereproduksi seksual secara internal atau eksternal dan bersifat dioseus (alat kelamin jantan dan betina terdapat pada individu yang berbeda) atau monoseus (alat kelamin jantan dan betina pada satu individu).
  • Dibedakan menjadi 3 kelas yaitu, Gastropoda, Pelecypoda dan Cephalopoda.



  • 7. Arthropoda ( hewan kaki beruas)





















  • Hewan triploblastik selomata dengan simetri bilateral, memiliki kaki dan tubuh beruas, hidup di berbagai habitat secara bebas, parasit, komensal atau simbiotik.
  • Tubuh terdiri dari kaput (kepala), toraks (dada) dan abdomen (perut). Eksoskeleton (rangka luar), jumlah anggota tubuh beragam, system indra berkembang baik, system saraf tangga tali (sistem saraf yang terdiri dari ganglia otak di depan tubuh dekat dengan faring, dan tali saraf yang menembus segmen tubuh), system pencernaan lengkap, ekskresi melalui tubula malphigi (suatu saluran sebagai system ekskresi pada arthropoda) atau dibantu dengan kelenjar ekskresi tertentu.
  • Respirasi menggunakan insang, trakea atau paru-paru yang berbuku. System sirkulasi terbuka. Bersifat dioseus (alat kelamin jantan dan betina terdapat pada individu yang berbeda) dan reproduksi seksual secara internal dan mengalami ekdisis (peristiwa terlepasnya kutikula) sebagian bermetamorfosis.
  • Dibedakan menjadi 4 kelas berdasarkan struktur tubuh dan kaki yaitu Arachnoidea, Myriapoda, Crustacea dan Insecta.



8. Echinodermata (Hewan berkulit duri)
  • Hewan triploblastik selomata dengan simetri bilateral, permukaan tubuh berduri, hidup bebas di dasar laut.
  • Duri tumpul atau runcing, memiliki system ambulakral, system saraf berupa cincin pusat saraf yang bercabang, system pencernaan yang lengkap dan tidak memiliki system ekskresi.
  • Respirasi menggunakan insang, system sirkulasi dengan cairan rongga tubuh. Bersifat dioseus dan reproduksi seksual secara eksternal dan dapat beregenerasi.
  • Dibedakan menjadi 5 kelas yaitu, Asteroidea, Ophiuroidea, Echinoidea, Holothuroidea dan Crinoidea.


2. Vertebrata



Vertebrata merupakan kelompok hewan yang memiliki vertebrae (tulang belakang) memanjang pada bagian dorsal (punggung) kepala hingga ekor. Vertebrata terbagi atas beberapa kelas, diantaranya yaitu:

1. Kelas AGNATHA (Cyclostomata)

  • Tidak memiliki rahang
  • Tubuh seperti ikan, tidak bersisik, dan tidak mempunyai pasangan sirip
  • Jantung 2 ruang
  • Contoh : belut laut (Petromyzon )
  • ikan hantu/hagfish (Myxine )
2. Pisces

 


Kelas pisces merupakan kelompok hewan yang hidup di air. Bagian luar tubuh ikan dilindungi oleh eksoskeleton berupa sisik. Pisces dapat bernapas di dalam air berkat insang yang ada pada tubuhnya. Pisces adalah hewan poikiloterm (hewan berdarah dingin) yang dapat menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu air tempat hidupnya. Ordo dari pisces yaitu, Agnatha, Chondricthyes dan Ostheichthyes.


3. AMPHIBIA
Amfibi merupakan kelompok hewan yang dapat hidup di air maupun di darat. Contoh hewan amfibi yaitu, katak, kodok, salamander. Amfibi bernapas dengan paru-paru dan kulitnya. Jenis amfibi yang hidup di darat harus menemukan air untuk dapat bertelur. Larva amfibi disebut kecebong. Kecebong mirip dengan ikan kecil dan hidup di air. Pada masa ini kecebong bernapas dengan insang. Amfibi merupakan hewan poikiloterm (berdarah dingin). Ordo dari Amfibi yaitu: Anura, Caudata, Gymnophiona.


4. Reptilia


Reptil merupakan vertebrata pertama yang dapat beradaptasi di daerah kering. Reptil bersifat autotomi yaitu dapat memutuskan bagian tubuh tertentu jika dalam keadaan bahaya. Contoh, ular, buaya, alligator, kadal, kura-kura. Ordo dari reptile yaitu: Squamata, Crocodilia, Chelonia dan Rynchochepalia.


5. Aves



Nama lain dari Aves yaitu Burung. Memiliki bulu yang menutupi seluruh permukaan tubuh. Bulu burung terbagi atas filoplumae (sebagai sensoris), plumulae (sebagai isolator) dan plumae (untuk terbang). Burung merupakan hewan Homoiterm (berdarah panas). Burung memiliki Saccus pneumaticus (kantung hawa) yang berfungsi sebagai respirasi saat terbang, mengatur berat badan saat terbang, memperkeras suara dan membungkus organ dalam agar tidak dingin ketika terbang.

Contoh Lainnya : elang, penguin, bebek.

Kelas Aves memiliki 27 ordo diantaranya yaitu: Apterygiformes, Struthioniformes, Rheiformes, Casuarriiformes, Tinamiformes, Podicipediformes, Gaviiformes, Spheniscitormes, Procellariiformes, Pelecaniformes, Ciconiiformes, Anseriformes, Falconiformes, Galliformes, Gruiformes, Caradriiformes, Columbiformes, Psittaciformes, Cuculiformes, Strigiformes, Caprimulgiformes, Apodiformes, Trogoniformes, Coliiformes, Coraciiformmes, Piciformes dan Passeriformes.



6. Mammalia


Kelas Mammalia merupakan kelas yang memiliki mammae gland (kelenjar susu) dan rambut yang menutupi permukaan tubuh. Mammalia terbagi atas Mammalia bertelur (ex: platypus), Mammalia berkantung (ex:Kanguru, Koala) dan Mammalia berplasenta yang bersifat vivipar (melahirkan) (Contoh :kucing, anjing, harimau, hyena dll).


Klasifikasi Mamalia

Klasifikasi Mamalia terdiri dari beberapa ordo:

  1. Monotremata (mamalia berparuh bebek), hewan ovivar. Contoh, Platypus
  2. Marsupilia (hewan berkantong), Contoh; kanguru
  3. Insectivora (hewan pemakan serangga). Contoh, landak
  4. Chiroptera (mamalia bersayap). Contoh, kelelawar
  5. Rodentia (hewan pengerat). Contoh, marmut
  6. Lagomorpha (golongan kelinci)
  7. Cetacea (golongan paus)
  8. Sirenia (sebangsa duyung)
  9. Carnivora (pemakan daging)
  10. Proboscidea (mamalia berbelalai)
  11. Perissodactila (berkuku gasal): zebra, badak
  12. Artiodactyla (berkuku genap): babi, unta, jerapah, domba
  13. Primata (derajat yang paling tinggi).

Perbedaan vertebrata secara umum

 

Sistem Organ Kingdom Animalia

  • 1. Sistem Rangka

Sistem Rangka pada Kingdom Animalia terbagi atas 2 yaitu Eksoskeleton dan Endoskeleton. Eksoskeleton adalah rangka yang berada di luar tubuh hewan dan fungsinya untuk membungkus dan melindungi organ dalam yang lunak. Contoh pada hewan Invertebrata yaitu dari filum Athropoda.

Sedangkan Endoskeleton adalah rangka yang terdapat dalam tubuh hewan. Endoskeleton dibungkus oleh kulit dan daging. Contoh pada hewan Vertebrata.

  • 2. Sistem Respirasi (Pernapasan)

Kelompok Vermes (Cacing) menggunakan permukaan tubuhnya untuk bernapas. Sistem Pernapasan Serangga disebut system penapasan Trakea. Sedangkan Ikan dan Hewan Laut lainnya seperti udang, kepiting, cacing laut dan bintang laut bernapas menggunakan system Insang.

Katak dewasa menggunakan paru-paru dan kulit untuk bernapas. Adapun larva katak (berudu) menggunakan insang luar. Pada salamander, insang luar tetap ada hingga dewasa. Burung memiliki paru-paru yang dibantu oleh Saccus pneumaticus (kantung hawa).

  • 3. Sistem Sirkulasi (Sistem Peredaran Darah)

Sistem peredaran darah pada makhluk hidup multiseluler dapat dibedakan atas peredaran darah terbuka dan peredaran darah tertutup. Pada peredaran darah terbuka, darah yang mengalir tidak selalu berada dalam pembuluh darah. Adapun peredaran darah tertutup, darah mengalir dalam sistem pembuluh darah.

Jantung ikan memiliki dua ruang yaitu atrium dan ventikel. Pada Amphibia, jantungnya memiliki tiga ruang, yaitu atrium kanan, atrium kiri, ventrikel. Jantung Reptilia memiliki empat ruang, namun sekat antara ventrikel kanan dan kiri belum sempurna. Pada Aves dan Mammalia, jantungnya memiliki empat ruang sehingga tidak akan terjadi pencampuran antara darah kaya O2 dengan darah kaya CO2 .

  • 4. Sistem Reproduksi.

Sistem Reproduksi pada Kingdom Animalia sangat bervariasi. Ada yang bereproduksi secara Aseksual, Seksual, maupun keduanya. Reproduksi secara aseksual yaitu reproduksi yang terjadi secara pembelahan, pertunasan dan regenerasi. Contoh hewan yang memiliki system reproduksi secara aseksual yaitu amoeba, hydra dll.

Reproduksi secara seksual yaitu reproduksi yang terjadi dengan peleburan antara gamet jantan dan gamet betina sehingga terjadi fertilisasi dan menghasilkan individu baru. Fertilisasi terbagi menjadi dua, fertilisasi internal dan eksternal. Fertilisasi internal yaitu pembuahan yang terjadi di dalam tubuh, contoh hewannya yaitu kucing, anjing, tikus, kelinci dsb. Sedangkan fertilisasi eksternal yaitu pembuahan yang terjadi di luar tubuh. Contoh hewannya yaitu Katak, kodok, dan beberapa jenis ikan.


Selain itu ada organisme yang bereproduksi secara parthenogenesis (sel telur yang berkembang menjadi individu baru tanpa dibuahi oleh sel sperma), contoh lebah dan semut.










Wednesday, February 17, 2021

Wewaler

 Wewaler 



Gugon tuhon

Budaya Wewaler



   Wewaler padha karo gugon tuhon. Gugon tuhon saka Tembung gugu (pracaya marang kandhaning liyan) lan tuhu (nyata, temen). Gugon tuhon yaiku ngandel marang prakara sing dianggep duwe kadayan ngungkuli kodrat, mangka sanyatane ora. Gugon tuhon ing madyaning masarakat Jawa diarani pepali utawa larangan. Gugon tuhon kalebu kaprecayan tansah duwe rasa sumelang menawa ora bisa nyembadani prekara sing dianggep mbebayani iku. 


Gugon tuhon


Gugon tuhon salugu yaiku bocah utawa wong sing dadi mangsane Bathara Kala miturut dongeng yaiku bocah sukerta. Miturut kaprecayan, kanggo ngusadhani supaya ora dimangsani Bathara Kala, kudu ditanggapake wayang kanthi lakon Amurwakala.

Gugon tuhon wasita sinandi yaiku kalebu pitutur sing ora kalairake kanthi melok. Akeh nggunakake tembung boten ilok utawa ora ilok sing sejatine ngemu teges ora becik.

Gugon tuhon kalebu wewaler yaiku wewaler saka leluhur utawa wong sing dadi cikal bakal amarga nindakake sawijining bab, banjur wewaler kanggo anak putu supaya ora melu nindakake.


Budaya Jawa kaperang dadi loro arupa pituduh lan wewaler. Kabeh ngandhut 6 perkara yaiku Ketuhanan Yang Maha Esa, rohani, kamanungsan, kabangsan, kulawarga, lan kadonyan. 


Pituduh 


    Mungguhe bebrayan Jawa, pituduhe urip iku kaperang dadi enem prekara, kaya kacetha ing ngisor iki.

Pituduh magepokan karo Gusti Kang Maha Wisesa

Pituduh kang magepokan karo rohani

Pituduh kang magepokan karo kamanungsan

Pituduh kang magepokan karo kabangsan

Pituduh kang magepokan karo kulawarga

Pituduh kang magepokan karo kadonyan


Wewaler


    Kaya dene pituduh, wewalere bebrayan Jawa uga kapantha dadi enem pepanthan, kaya ing ngisor iki.


Wewaler kang magepokan karo Gusti Kang Murbeng Urip

Wewaler kang magepokan karo rohani

Wewaler kang magepokan karo kamanungsan

Wewaler kang magepokan karo kabangsan

Wewaler kang magepokan karo kulawarga 

Wewaler kang magepokan karo kadonyan

SERAT TRIPAMA DHANDANGGULA

 SERAT TRIPAMA DHANDANGGULA

Serat Tripama Dandhanggula – Sejarah, Pengertian, Pupuh Lan Pitutur Luhur




Berikut ini adalah pembahasan selengkapnya mengenai materi Serat Tripama Pupuh Dhandanggula.


Sejarah Serat Tripama Dhandanggula

Serat tripama minangka karya sastra budaya Jawa awujud tembang macapat dhandanggula, kang kasusun saka pitung bait. Serat Tripama pisanan muncul ing jaman Mangkunegaran, sing digawe Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (KGPAA Mangkunegara IV) ing Surakarta. Serat tripama iki pisanan diterbitake ing koleksi gaweyan dening Mangkunegara IV, jilid III (1927).


Serat Tripama, kalebu ngemot bab kaprawiran, kanthi ketelitian sing luwih tepat. Serat tripama iki nerangake bab iki kanthi njupuk telung crita saka paraga ing carita wayang, yaiku Patih Suwanda, Kumbakarna, lan Basukarna. Serat tripama dhewe ditulis udakara taun 1860 lan digunakake minangka panutan lan sumber inspirasi sing bisa dadi panutan, iki ora mung ditrapake kanggo para prajurit, nanging uga kanggo para pimpinan lan masarakat saiki supaya bisa nindakake tugas masing-masing kanthi bener lan bisa dipertanggungjawabake.


Pengertian Serat Tripama Tembang Dhandanggula

Serat tripama (telung suri tauladhan) miturut KGPAA Mangkunegara IV (1809-1881) ing Surakarta, ditulis nganggo tembang dhandhanggula, ana pitung baus lan nyritakake Patih Suwanda (Bambang Sumantri), Kumbakarna, lan Suryaputra (Adipati Karna). Alesan milih telung tokoh ing ndhuwur yaiku duwe watak apik lan kesatria lan duwe semangat nasional lan patriotisme tumrap negarane masing-masing. Umume, serat tripama iki awujud pitutur/paribasan gegayutan karo nilai teladan sing apik saka telung tokoh kasebut.


Serat tipama awujud Dhandanggula kang cacahe 7 pada. Pada nemer siji lan nomer loro nyritakake Patih Suwanda, pada nomer telu lan papat nyritakake Kumbakarna, banjur pada kaping lima lan nomer enem nyritakake babagan Adipati Karna, lan duwe kesimpulan lan penutup ing bait kaping pitu. Dahandang Gula saka tembung Dhandang (pengarep) lan Gula (kabecikan). Tembang Dhandanggula anduweni watak luwes, ngresepake, lan rasa kasraman.


Baca Juga : Pupuh Kinanthi Beserta Artinya


Tembang Dhandanggula Serat Tripama

Serat Tripama

KGPAA MANGKUNEGARA IV


1. yogyanira kang para prajurit,

    lamun bisa samya anulada,

    kadya nguni caritane,

    andelira sang Prabu,

    sasrabau ng Maespati,

    aran Patih Suwanda,

    lalabuhanipun,

    kang ginelung triperkara,

    guna kaya purunne kang denantepi,

    nuhoni trah utama.


becike para prajurit kabeh,

bisa niru (nyontoa),

kaya dongengan jaman kuna,

andel-andele sang Prabu

Sasrabau ing Maespati,

asmane Patih Suwanda,

lelabuhane (jasane),

kang digelung ing 3 perkara,

yaiku guna kaya purun kang diantepi,

netepi trah wong utama.


2. lire lalabuhan tri prakawis,

    guna bisa saniskareng karya,

    binudi dadi unggule,

    kaya sayektinipun,

    duk bantu prang Manggada nagri,

    amboyong putri dhomas,

    katur ratunipun,

    purunne sampun tetela,

    aprang tandhing lan aditya Ngalengka aji,

    suwanda mati ngrana.


Tegese lelabuhan telung prakara,

yaiku guna  bisa mrantasi, 

gawe supaya dadi unggul,

kaya 

nalika paprangan negara Manggada,

bisa mboyong putri dhomas,

diaturake marang ratu, 

purun kekendale wis nyata,

nalika perang tandhing karo Dasamuka  ratu negara Ngalengka,

patih Suwanda gugur ing madyaning paprangan.


3. wonten malih tuladan prayogi,

    satriya gung nagari ngalengka,

    sang Kumbakarna namane,

    tur iku warna diyu,

    suprandene nggayuh utami,

    duk awit prang Ngalengka,

    dennya darbe atur,

    mring raka amrih raharja,

    dasamuka tan keguh ing atur yekti,

    de mung mungsuh wanara.


Ana maneh conto sing prayoga (becik),

yaiku satriya agung ing negara Ngalengka,

sing asmane Kumbakarna,

Sanadyan wujude buta,

parandene kepengin nggayuh kautaman,

Nalika wiwit perang Ngalengka,

dheweke nduwe atur,

marang ingkang raka supaya Ngalengka tetep slamet (raharja),

Dasamuka ora nggugu guneme Kumbakarna,

jalaran mung mungsuh bala kethek.


4. Kumbakarna kinen mangsah jurit,

    mring kang raka sira tan lenggana,

    nglungguhi kasatriyane,

    ing tekad datan purun,

    anung cipta labih nagari,

    lan nolih yayahrena,

    myang leluhuripun,

    wus mukti aneng Ngalengka,

    mangke arsa rinusak ing bala kapi,

    punagi mati ngrana.


Kumbakarna didhawuhi maju perang,

ora mbantah jalaran nglungguhi,

netepi  watak satriyane,

tekade ora gelem,

mung mikir labuh negara,

lan ngelingi bapak ibune,

sarta leluhure,

sing wis mukti ana ing Ngalengka,

saiki arep dirusak bala kethek,

luwih becik gugur ing paprangan.


5. wonten malih kinarya palupi,

    suryaputra Narpati Ngawangga,

    lan Pandhawa tur kadange,

    len yayah tunggil ibu,

    suwita mring Sri Kurupati,

    aneng nagri Ngastina,

    kinarya gul-agul,

    manggala golonganing prang,

    bratayuda ingadegken  senapati,

    ngalaga ing Korawa.


Ana maneh sing kena digawe patuladhan,

yaiku R. Suryaputra ratu ing negara Ngawangga,

karo Pandhawa isih sadulur,

pada bapa tunggal ibu,

ngabdi marang Prabu Kurupati,

ing negara Ngastina,

dadi kesayangan,

didadekake manggalaning (panglima ) prajurit Ngastina,

nalika ing perang Bratayuda,

mbela ing Kurawa.


6. minungsuhken kadange pribadi,

    aprang tandhing lang sang Dananjaya,

    Sri karna suka manahe,

    dene sira pikantuk,

    marga dennya arsa males-sih,

    ira sang Duryudana,

    marmanta kalangkung,

    dennya ngetog kasudiran,

    aprang rame Karna mati jinemparing,

    sumbaga wiratama.


Dimungsuhake karo sedulure dhewe,

yaiku R. Arjuna (Dananjaya),

Prabu Karna seneng banget atine,

jalaran oleh dalan kanggo males,

kabecikane Prabu Duryudana,

tekade temenanan banget,

anggone ngetog kekendelan,

wusanane Karna gugur kena panah,

kondhang minangka prajurit kang utama.


 

7. katri mangka sudarsaning Jawi,

    pantes lamun sagung pra prawira,

    amirita sakadare,

    ing lalabuhanipun,

    aja kongsi mbuwang palupi,

    manawa tibeng nistha,

    ina esthinipun,

    sanadyan tekading buta,

    tan prabeda budi panduming dumadi,

    marsudi ing kotaman.


Conto telu-telune mau minangka patuladhan tanah Jawa,

Becik (pantes) yen sakabehe para perwira,

nuladha sakadare (sakuwasane),

ing lelabuhanipun,

aja nganti mbuwang conto,

jalaran yen tibaning apes dadi ina,

sanadyan tekade buta,

ora beda kalawan titah liya,

nggolek kautaman.


Kesimpulan

1. Pada Kapisan lan Kaloro


Pada pertama lan nomer loro nyritakake Bambang Sumantri sing jejuluk Patih Suwanda. Patih Suwanda minangka gubernur Prabu Maespati, yaiku Arjuna Sasrabahu. Dheweke dadi panutan sing setya lan mantep banget kanggo nindakake kewajiban sing diperintah nggawa Putri Citrangada lan 800 kanca.


Saka pada kasebut, kita bisa nyimpulake yen telung sipat pahlawan Patih Suwanda kaya ing ngisor iki:

Guna: ahli, pinter lan trampil lan ngabdi marang Bangsa lan negara.

Kaya: Nalika Patih Suwanda diutus Prabu Arjuna Sasrabahu, dheweke bali nggawa barang rampasan perang. Barang jarahan kasebut ora digunakake kanggo kabutuhan pribadi, nanging kanggo kesejahteraan Bangsa lan Negara Maespati.

Purun: gagah, Patih Suwanda mesthi wani ing kabeh perkara lan ing saben gelut.


2. Pada Katelu lan Papat


Pada kaping telu lan nomer papat nyritakake babagan raksasa sing jenenge Kumbakarna sing adhine Prabu Alengka, Dasamuka (Rahwana). Kumbakarna minangka tokoh raksasa sing duweni watak kerajaan lan setya karo negarane. Iki bertentangan karo watak sedulure sing sombong lan sembarangan.


Nalika Alengka diserang dening tentara kethek, Kumbakarna terus perang kanthi ora sabar kanggo mbela adhine sing salah amarga nyulik Dewi Shinta, nanging minangka ksatria sing bisa ngorbanake awak lan jiwa kanggo negarane, uga warisan saka leluhure. Pasukan kethek sing akeh banget akhire nggawe Kumbakarna guguur ing perang.


3. Pada Kaping Lima lan Nomer Enem


Pada kaping lima lan nomer enem nyritakake Prabu Suryaputera utawa Raja Karna saka Anga. Amarga dheweke ngerti ora setya marang bapake, Prabu Salya, apamaneh nalika biyunge, Dewi Kunthi, njaluk bali menyang Pandawa, nulungi adhine-adhine ing perang Baratayudha. Nalika semana Karna nolak amarga dheweke wis janji janji bakal mbela mungsuh Pandhawa, yaiku Kaurawa. Sebabe amarga Duryudhana ngundhakake pangkat saka putra kreta dadi Raja Anga. Supaya kesetiaan dheweke bakal terus berjuang sajrone dheweke isih urip lan ambegan.


4. Pada Kapitu


Bait kaping pitu nerangake manawa telung tokoh kasebut kudune ditiru, sing kudu ditiru yaiku pengabdian lan sipat teladan kanggo ngetokake watak utama lan luhur.


Pitutur Luhur

Serat tripama ngemot konsep pertahanan negara kanthi rinci ing lirik kasebut.

Piwulang babagan bab katresnan kanggo mbela bangsa lan negara.

Kepentingan bangsa lan negara kudu dadi prioritas tinimbang kepentingan pribadi.

Sekian materi bab Serat Tripama Tembang Dhandanggula dari Synaoo.com. Semoga materi yang disajikan dapat bermanfaat bagi teman-teman.

Sunday, January 24, 2021

TUMBUHAN (PLANTAE)

 



TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari bab ini, siswa diharapkan dapat:
  1. Mengindentifikasi, membedakan, dan mengkomunikasikan ciri-ciri divisi dalam Dunia Tumbuhan.
  2. Member contoh anggota tiap divisi dalam Dunia Tumbuhan.
  3. Mengidentifikasi cara perkembangbiakan divisi-devisi dalam Dunia Tumbuhan.
  4. Mengenal tiap anggota divisi dalam Dunia Tumbuhan berdasarkan morfologinya.
  5. Mengidentifikasi peran anggota Dunia Tumbuhan bagi kehidupan.
  6. Mengusulkan alternatif pemanfaatan Dunia Tumbuhan bagi perkembangan sains, teknologi, dan lingkungan pada masyarakat.  

A. Lumut (Bryophytes)
Lumut berasal dari bahasa Yunani bryon yang artinya tumbuhan.
Ciri-ciri Lumut:
  1. sel-sel penyusun tubuhnya telah memiliki dinding sel
  2. Susunan arkegoniumnya sama dengan tumbuhan paku. Lumut dan paku disebut arkegoniata.
  3. Batang terdiri dari selapis sel kulit, lapisan kulit dalam, dan silinder pusat
  4. Hanya tumbuh memanjang dan tidak tumbuh membesar
  5. Rizoid tampak seperti benang-benang


Skema Metagenesis Tumbuhan Lumut
Klasifikasi Lumut

1. Lumut Daun (Bryophyta)


2. Lumut Hati (Hepaticophyta)



3. Lumut Tanduk (Anthocerotophyta)


Siklus Hidup Lumut Daun



Peranan Lumut bagi Kehidupan

1. Pembalut atau pengganti kapas


2. Hiasan


3. Menyerap air dan melembapkan tanah



B. Tumbuhan Paku

Ciri-ciri Paku:
  1. Lapisan pelindung sel (jaket steril) yang terdapat di sekeliling organ reproduksi
  2. Embrio multiseluler terdapat dalam arkegonium
  3. Kutikula pada bagian luar
  4. Sistem transpor internal mengangkut air dan zat makanan dari dalam tanah

Struktur Tubuh Tumbuhan Paku




Skema Metagenesis Tumbuhan Paku



Skema Metagenesis Paku Homospora



Klasifikasi Tumbuhan Paku




Peranan Tumbuhan Paku bagi Kehidupan
  • Karangan bunga


  • Tanaman hias


  • Sayuran




C. Tumbuhan Biji

Ciri-ciri Tumbuhan Biji:
  1. Biji dihasilkan oleh bunga atau runjung
  2. Sperma menuju sel telur melalui tabung serbuk sari
  3. Memiliki saluran (xilem dan floem) untuk mengangkut air, mineral, makanan, dan bahan-bahan lain
  4. Memiliki klorofil

1. Tumbuhan Biji Terbuka (Gymnospermae)

Ciri-ciri Tumbuhan Biji Terbuka:
  1. Meliputi tumbuhan yang berupa semak-semak atau pohon-pohon yang batangnya keras dan berkayu
  2. Merupakan akar tunggang dan batangnya bercabang-cabang
  3. Daunnya kaku, sempit, jarang, serta berdaun pipih
  4. Bunga yang sesungguhnya belum ada
  5. Bakal biji terdapat pada badan mirip makroskofil dan disebut daun buah
  6. Serbuk sari terdapat pada badan sehungga tumbuhan biji disejajarkan dengan paku heterospora


























































Konsep Biologi untuk pembelajaran TKA Biologi Kelas XII

  🌳 Keanekaragaman Hayati Keanekaragaman hayati (Biodiversitas) adalah totalitas variasi kehidupan di bumi. Untuk analisis TKA, Anda wajib...